
Mbah Rah..
Meninggal Rabu Legi, 13 Juni 2007. Rumahnya kecil, terbuat dari gedeg. Ukuran rumah 2,5 meter kali 2 meter. Beberapa kali rumah Mbah Rah berganti bahan. Pernah hanya terbuat dari kulit pohon jati beratap alang-alang. Ketika ada yang menulis koran tentang Mbah Rah, dinas sosial dan kelurahan serta Mantri (Perhutani) mengubah rumahnya menjadi terbuat dari gedeg dan atapnya dari genteng. Mbah Rah senang sebab ia juga mendapatkan beberapa ekor ayam dari Pak Lurah.
Di musim hujan ia tidak lagi hanya dapat duduk di atas ambennya lalu menutup kepalanya dengan tampah karena dinding rumahnya bocor dan air masuk., melainkan tetap dapat beraktivitas sekedar memasak nasi dan sayur untuk dirinya dan anak keponakannya. Ia menghidupi dirinya dengan menanam kacang atau kedelai di pekarangan sekeliling rumahnya yang hanya seluas 20 meter persegi. Beras ia dapatkan dari membeli sendiri atau menerima dari keponakaanya yang menggarap lahan keluarga dari turunan masa lalu.
Mbah Rah tinggal di Anak Dusun Watu Pawon, sebuah wilayah terpencil di tengah hutan Ngawi. Tujuh kilometer letaknya dari pusat pemerintahan kabupaten tetapi wilayah ini hidup dengan caranya sendiri. Sebuah wilayah dengan mitos larangan lanang. Artinya, penduduk laki-laki asli tidak boleh tinggal dan menetap di wilayah itu atau ia akan mendapatkan celaka. Menjelang dewasa mereka harus pindah. Kini, setelah para suami meninggal, wilayah ini hanya dihuni oleh janda-janda tua.
Mbah Rah sudah sangat lama ditinggal pergi suaminya. Tidak punya anak. Seiring waktu, wilayah itu hanya dihuni 5 orang: 1 saudara Mbah Rah bernama Kasinem, 2 keponakan, dan 1 cucu (anak keponakan). Tahun 2003, masih ada keponakan yang lain, tetapi karena antar keponakan ini “berebut suami” maka ada konflik. Tetapi konflik reda ketika salah satu keponakan Mbah Rah yang berkonflik ini meninggalkan kawasan. Mbah Rah berada di pihak keponakan yang kemudian pergi itu. Semenjak itu Mbah Rah sendiri. Mbah Rah berusaha memperbaiki hubungan dengan kubu yang dulu dimusuhinya tetapi tidak gampang.
Hutan semakin rusak. Gersang dan panas. Di musim kemarau Mbah Rah membuat arang. Ia mengumpulkan kayu dari lingkungan hutan di sekeliling anak dusun dimana ia tinggal. Rusaknya hutan membuat Mbah Rah merasa berat sebab ia harus mencari dan mengangkat kayu bahan arang dari lokasi yang jauh. Karena lelah dan tenaganya yang sudah tidak lagi kuat, ia nekat membawa bahan-bahan yang tidak layak. Jadilah arang yang buruk: Masih ada bagian kayunya atau bahkan jadi abu. Setelah jadi, Mbah Rah membuat lagi arang, karena arang yang hanya sedikit hanya akan membuatnya rugi di angkutan. Kalau sudah cukup, ia akan mengangkut satu demi satu karung arang sejauh 500 meter ke arah jalan di tengah hutan dimana sudah ada angkutan. Suatu hari arangnya terlihat menumpuk di dekat jalan. Mbah Rah menangis sebab angkutan tidak ada yang mau mengangkut arangnya. Ia merayu bahkan menyuap sopir angkut tetapi tetap saja sopir tidak mau. Saat itu ada kunjungan dari Unit II Perhutani selama 3 minggu. Menurut aturan Perhutani, pekerjaan membuat arang di hutan dianggap illegal. Waktu itu musim kemarau dan Mbah Rah hanya mengandalkan arang.
Ia seringkali dikagetkan oleh orang yang mau berkunjung. Tidak kulonuwun kalau masuk rumahnya. Seringkali ia terlihat membaca seperti mantra. Waktu itu ia sedang bersolek di depan kaca. Menurut cerita, penduduk di wilayah ini punya mantra di setiap kegiatannya. Untuk menggadapi hewan kecil seperti kalajengking atau supaya kelihatan cantik sehingga dagangannya laku di pasar. Mbah Rah juga dapat menyembuhkan dirinya dari luka terkena api. Tapi dalam acara makan siang, berlauk sayur ceme, --kepada tamu biasanya diberikan piring dari kaca sedangkan dia sendiri dari seng—ia menyatakan sangat tertekan dengan keadaan sekarang.
Agak lama tidak di sana, banyak didapatkan kehilangan bagian dimana tiba-tiba Mbah Rah sakit kakinya dan menurut keponakannya, Mbah Rah stress. Mbah Rah sering berteriak minta api di waktu malam tetapi kemudian gedeg rumahnya di potong-potong dengan sabitnya untuk kemudian di bakarnya. Lalu abunya dioleskan ke tubuhnya dan ia berteriak-teriak minta makan. Tiap pagi-siang-sore, keponakannya memberikan Mbah Rah makan. Beberapa kali Mbah Rah dimandikan tetapi kemudian sangat jarang. Mereka mengatakan bahwa Mbah Rah begitu karena ilmu simpanannya. Bertanya pada seorang paranormal maka diperoleh keterangan bahwa Mbah Rah dipegang oleh 7 roh hitam dan 1 lagi putih warnanya. Paranormal ini mengatakan dapat menghilangkan ilmu Mbah Rah tetapi ini berimplikasi pada meninggalnya Mbah Rah. Ia bertanya, apakah warga yang lain setuju jika itu dilakukan terhadap Mbah Rah?
Mereka setuju. Tetapi kabar kesetujuan mereka itu tidak akan sampai kepada paranormal tadi. Kelihatannya ada kandungan benci atau malas merawat. Lalu datang seorang teman. Ia seorang diakon katolik. Ia biasa menghadapi kasus seperti ini. Maka kemudian ia mengajak anak-anak muda di gereja untuk datang ke Watu Pawon,, memikul air dan memandikan Mbah Rah. Ada pula tenaga medis, ia seorang ibu dan mulai membersihkan luka Mbah Rah dan mengobatinya. Semua terlihat sibuk merawat Mbah Rah. Ada pula pastor yang ikut mengusung air dari sumur ke rumah Mbah Rah ini. Kegiatan ini sering mereka lakukan, juga termasuk membersihkan kotoran di dalam rumahMbah Rah, feses dan bau pesing.
Kegiatan seperti ini dicurigai sebagai penyebaran agama. Sebelumnya, di Watu Pawon ini sering dilakukan kegiatan pembagian sembako, pelayanan kesehatan, dan ternak ayam untuk anak-anak yang donaturnya dari pribadi-pribadi atau kelompok keagamaan baik dari Islam, Kristen Jawi Wetan, bahkan padepokan. Betapapun dilakukan kegiatan sosial dari zakat sampai dengan hewan korban oleh yang non Islam tetapi tetap saja ada kecurigaan. Betapa penduduk Watu Pawon ini lebih baik jiwanya dapat dengan ramah menerima siapa saja dari golongan apa saja. Hanya dilihat hatinya saja oleh mereka, bukan agamanya.
Mbah Rah tiap pagi “DD” di depan pintu. Ia jalan terseok-seok. Nglesot. Sinar matahari hangat dan menyenangkan. Lagi pula di dalam bau pesing dan kotor. Namun Rabu Legi pagi itu ia DD untuk yang terakhir kalinya. Menghadap sang fajar. Mungkin ia merapal dulu dan membacakan mantra, mungkin berdoa kepada Tuhan. Kematiannya baru diketahui jam 12 siang. Tubuhnya sudah kaku, meninggal dengan merangkul gundukan tanah di depan rumahnya, kepalnya ditidurkan di atas gundukan itu, sangat tenang wajahnya.
Pemakaman dilakukan sederhana. Orang-orang juga terlihat tenang dan tidak ada kesedihan. Beberapa mengatakan mungkin lebih baik kalau begini kejadiannya sehingga ia tidak lama menderita. Saya berpikir, kenapa setelah diberi kesempatan begitu lama untuk dapat membantu apa saja bagi Mbah Rah tetapi belum sepenuhnya dilakukan..
Meninggal Rabu Legi, 13 Juni 2007. Rumahnya kecil, terbuat dari gedeg. Ukuran rumah 2,5 meter kali 2 meter. Beberapa kali rumah Mbah Rah berganti bahan. Pernah hanya terbuat dari kulit pohon jati beratap alang-alang. Ketika ada yang menulis koran tentang Mbah Rah, dinas sosial dan kelurahan serta Mantri (Perhutani) mengubah rumahnya menjadi terbuat dari gedeg dan atapnya dari genteng. Mbah Rah senang sebab ia juga mendapatkan beberapa ekor ayam dari Pak Lurah.
Di musim hujan ia tidak lagi hanya dapat duduk di atas ambennya lalu menutup kepalanya dengan tampah karena dinding rumahnya bocor dan air masuk., melainkan tetap dapat beraktivitas sekedar memasak nasi dan sayur untuk dirinya dan anak keponakannya. Ia menghidupi dirinya dengan menanam kacang atau kedelai di pekarangan sekeliling rumahnya yang hanya seluas 20 meter persegi. Beras ia dapatkan dari membeli sendiri atau menerima dari keponakaanya yang menggarap lahan keluarga dari turunan masa lalu.
Mbah Rah tinggal di Anak Dusun Watu Pawon, sebuah wilayah terpencil di tengah hutan Ngawi. Tujuh kilometer letaknya dari pusat pemerintahan kabupaten tetapi wilayah ini hidup dengan caranya sendiri. Sebuah wilayah dengan mitos larangan lanang. Artinya, penduduk laki-laki asli tidak boleh tinggal dan menetap di wilayah itu atau ia akan mendapatkan celaka. Menjelang dewasa mereka harus pindah. Kini, setelah para suami meninggal, wilayah ini hanya dihuni oleh janda-janda tua.
Mbah Rah sudah sangat lama ditinggal pergi suaminya. Tidak punya anak. Seiring waktu, wilayah itu hanya dihuni 5 orang: 1 saudara Mbah Rah bernama Kasinem, 2 keponakan, dan 1 cucu (anak keponakan). Tahun 2003, masih ada keponakan yang lain, tetapi karena antar keponakan ini “berebut suami” maka ada konflik. Tetapi konflik reda ketika salah satu keponakan Mbah Rah yang berkonflik ini meninggalkan kawasan. Mbah Rah berada di pihak keponakan yang kemudian pergi itu. Semenjak itu Mbah Rah sendiri. Mbah Rah berusaha memperbaiki hubungan dengan kubu yang dulu dimusuhinya tetapi tidak gampang.
Hutan semakin rusak. Gersang dan panas. Di musim kemarau Mbah Rah membuat arang. Ia mengumpulkan kayu dari lingkungan hutan di sekeliling anak dusun dimana ia tinggal. Rusaknya hutan membuat Mbah Rah merasa berat sebab ia harus mencari dan mengangkat kayu bahan arang dari lokasi yang jauh. Karena lelah dan tenaganya yang sudah tidak lagi kuat, ia nekat membawa bahan-bahan yang tidak layak. Jadilah arang yang buruk: Masih ada bagian kayunya atau bahkan jadi abu. Setelah jadi, Mbah Rah membuat lagi arang, karena arang yang hanya sedikit hanya akan membuatnya rugi di angkutan. Kalau sudah cukup, ia akan mengangkut satu demi satu karung arang sejauh 500 meter ke arah jalan di tengah hutan dimana sudah ada angkutan. Suatu hari arangnya terlihat menumpuk di dekat jalan. Mbah Rah menangis sebab angkutan tidak ada yang mau mengangkut arangnya. Ia merayu bahkan menyuap sopir angkut tetapi tetap saja sopir tidak mau. Saat itu ada kunjungan dari Unit II Perhutani selama 3 minggu. Menurut aturan Perhutani, pekerjaan membuat arang di hutan dianggap illegal. Waktu itu musim kemarau dan Mbah Rah hanya mengandalkan arang.
Ia seringkali dikagetkan oleh orang yang mau berkunjung. Tidak kulonuwun kalau masuk rumahnya. Seringkali ia terlihat membaca seperti mantra. Waktu itu ia sedang bersolek di depan kaca. Menurut cerita, penduduk di wilayah ini punya mantra di setiap kegiatannya. Untuk menggadapi hewan kecil seperti kalajengking atau supaya kelihatan cantik sehingga dagangannya laku di pasar. Mbah Rah juga dapat menyembuhkan dirinya dari luka terkena api. Tapi dalam acara makan siang, berlauk sayur ceme, --kepada tamu biasanya diberikan piring dari kaca sedangkan dia sendiri dari seng—ia menyatakan sangat tertekan dengan keadaan sekarang.
Agak lama tidak di sana, banyak didapatkan kehilangan bagian dimana tiba-tiba Mbah Rah sakit kakinya dan menurut keponakannya, Mbah Rah stress. Mbah Rah sering berteriak minta api di waktu malam tetapi kemudian gedeg rumahnya di potong-potong dengan sabitnya untuk kemudian di bakarnya. Lalu abunya dioleskan ke tubuhnya dan ia berteriak-teriak minta makan. Tiap pagi-siang-sore, keponakannya memberikan Mbah Rah makan. Beberapa kali Mbah Rah dimandikan tetapi kemudian sangat jarang. Mereka mengatakan bahwa Mbah Rah begitu karena ilmu simpanannya. Bertanya pada seorang paranormal maka diperoleh keterangan bahwa Mbah Rah dipegang oleh 7 roh hitam dan 1 lagi putih warnanya. Paranormal ini mengatakan dapat menghilangkan ilmu Mbah Rah tetapi ini berimplikasi pada meninggalnya Mbah Rah. Ia bertanya, apakah warga yang lain setuju jika itu dilakukan terhadap Mbah Rah?
Mereka setuju. Tetapi kabar kesetujuan mereka itu tidak akan sampai kepada paranormal tadi. Kelihatannya ada kandungan benci atau malas merawat. Lalu datang seorang teman. Ia seorang diakon katolik. Ia biasa menghadapi kasus seperti ini. Maka kemudian ia mengajak anak-anak muda di gereja untuk datang ke Watu Pawon,, memikul air dan memandikan Mbah Rah. Ada pula tenaga medis, ia seorang ibu dan mulai membersihkan luka Mbah Rah dan mengobatinya. Semua terlihat sibuk merawat Mbah Rah. Ada pula pastor yang ikut mengusung air dari sumur ke rumah Mbah Rah ini. Kegiatan ini sering mereka lakukan, juga termasuk membersihkan kotoran di dalam rumahMbah Rah, feses dan bau pesing.
Kegiatan seperti ini dicurigai sebagai penyebaran agama. Sebelumnya, di Watu Pawon ini sering dilakukan kegiatan pembagian sembako, pelayanan kesehatan, dan ternak ayam untuk anak-anak yang donaturnya dari pribadi-pribadi atau kelompok keagamaan baik dari Islam, Kristen Jawi Wetan, bahkan padepokan. Betapapun dilakukan kegiatan sosial dari zakat sampai dengan hewan korban oleh yang non Islam tetapi tetap saja ada kecurigaan. Betapa penduduk Watu Pawon ini lebih baik jiwanya dapat dengan ramah menerima siapa saja dari golongan apa saja. Hanya dilihat hatinya saja oleh mereka, bukan agamanya.
Mbah Rah tiap pagi “DD” di depan pintu. Ia jalan terseok-seok. Nglesot. Sinar matahari hangat dan menyenangkan. Lagi pula di dalam bau pesing dan kotor. Namun Rabu Legi pagi itu ia DD untuk yang terakhir kalinya. Menghadap sang fajar. Mungkin ia merapal dulu dan membacakan mantra, mungkin berdoa kepada Tuhan. Kematiannya baru diketahui jam 12 siang. Tubuhnya sudah kaku, meninggal dengan merangkul gundukan tanah di depan rumahnya, kepalnya ditidurkan di atas gundukan itu, sangat tenang wajahnya.
Pemakaman dilakukan sederhana. Orang-orang juga terlihat tenang dan tidak ada kesedihan. Beberapa mengatakan mungkin lebih baik kalau begini kejadiannya sehingga ia tidak lama menderita. Saya berpikir, kenapa setelah diberi kesempatan begitu lama untuk dapat membantu apa saja bagi Mbah Rah tetapi belum sepenuhnya dilakukan..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar