Senin, 27 April 2009

VIKE dan tanaman lain bagi penduduk hutan Ngawi


103 petani Gunung Rambut beberapa waktu yang lalu terdaftar ingin mencoba menanam tembakau Virginia Kecil (VIKE). Hanya separo yang benar-benar menyebarkan benih. Dari sekitar separo petani yang menyebar, setengahnya sampai saat ini lumayan. Maksudnya, pada saat ini beberapa petani sudah ada yang memetik daun serta mengeringkan dan mengopennya. Beberapa yang lain masih baru berwujud tanaman. Sisanya masih menanam di bedengan.
Orbrolan dengan beberapa petani menggambarkan optimisme. Tetapi yang lain masih ragu dengan keberlanjutan VIKE. Mereka menemukan beberapa masalah karena baru kenal. Disamping itu beberapa mengalami kegagalan baik karena hujan yang masih saja ada atau teknis penanaman yang “pas”. Beberapa petani mengaku menerapkan sesuai dengan yang diberikan pihak Sampoerna dan gagal, beberapa lagi mengaku memakai teknik yang berbeda dengan sampoerna dan berhasil.



Bagaimanapun kami setuju bahwa kehadiran VIKE dan sampoerna ini sangat penting. Terutama, jika dikaitkan dengan jenis tanaman lain seperti jagung dan kedelai maka tembakau ini (mungkin-karena belum ada yang menjual) lebih menguntungkan. Kami sepakat bahwa penanaman perdana VIKE ini merupakan tahap perkenalan. Perkenalan yang penting karena jika berhasil tanaman ini akan melengkapi referensi penduduk hutan yang sebelumnya melulu kedelai dan jagung.



Toh perhitungan panen kedelai saat ini tidak juga menggembirakan. Harga yang biasanya diatas 3000 rupiah per kg, kini tinggal 2300-2500 rupiah per kg. Pak Sadiran, seorang penduduk hutan yang termasuk rajin dan telaten di pertanian, menceritakan kepada saya bahwa panen kedelainya dihargai 2300 per kg. Kali ini panennya hanya dapat 2,86kwintal. Nilai jualnya adalah 286kg dikalikan 2300 rupiah sehingga dia memperoleh total Rp. 657,800.
Biaya yang dikeluarkan adalah pupuk kimia 1 sak atau 120 ribu, semprot pestisida 25 ribu, tenaga luar 35 ribu, selep kedelai 52 ribu. Total pengeluaran 232 ribu. Keuntungannya adalah 657.800-232.000, yaitu 425.800 ribu. Jika tenaganya dihitung maka ia mengaku lebih dari 15 kali mengerjakan lahan kedelainya. Taruh saja biayanya 15 hari kali 20 ribu, maka sudah ada Rp. 300.000. Kalau ini dimasukkan sebagai komponen biaya maka keuntungannya menjadi Rp. 425.800 dikurangi Rp. 300.000 sehingga tinggal Rp. 125.800.



Rp. 125.800 adalah keuntungan bersih selama 3-4 bulan umur kedelai (dari persiapan sampai panen). Jadi Rp. 125.800 dibagi 3 bulan maka pendapatan per bulan adalah Rp. 41.934. Dibagi 30 hari sebulannya, maka per hari keluarga ini mendapatkan Rp. 1.398. Pak Sadiran mempunyai tanggungan 4 orang sehingga Rp. 1.398 dibagi 4 orang. Maka jatah per orang dalam keluarga Pak Sadiran adalah Rp. 349 per hari.
Pak Sadiran termasuk petani yang rajin dibandingkan yang lain. Ia mempunyai kambing 2 ekor dan sapi kecil 1 ekor. Dibandingkan dengan 200 kk penduduk di dusun dalam hutan itu, Pak Sadiran termasuk petani yang lumayan berhasil dalam soal pertanian.



Pak Sadiran kini menebar 4 bedeng VIKE dan berharap tanaman tembakaunya yang mulai tumbuh itu dapat menghasilkan. Di depan saya Pak Sadiran ini juga sedang membuat kesepakatan dengan tetangganya yang mempunyai banyak kotoran sapi untuk diolahnya menjadi kompos. Setelah jadi, kompos akan dibagi antara yang mempunayi kotoran sapi dengan Pak Sadiran sebagai pembuatnya.



Lalu pembicaraan kami beralih ke pupuk kimia yang harganya melambung..
Kenaikan harga pupuk kimia mulai tanggal 17 mei 2006 menjadi topic yang menarik dibicarakan antara saya, Pak Sadiran, dan Pak Rebu pemilik kotoran sapi yang akan diolah Pak Sadiran. Menurut saya, sepanjang perjalanan saya di hutan-hutan, saya tidak lagi menemui tanaman jagung yang bagus dan besar-besar. Saya juga tidak menemukan petani kedelai yang gembira karena panen. Saya menemukan tanaman jagung yang tidak sehat dengan buahnya yang kecil-kecil. Ramai warung sehabis panen kedelai juga tidak saya lihat dan saya rasakan di beberapa tempat di dalam hutan. Rupanya, menurut saya yang usaha kompos ini, tanah sudah rusak.
Dahulu menanam kedelai cukup dengan membuat lubang kecil lalu meletakkan beberapa butir kedelai kedalamnya. Setelah itu, alam yang mengurusnya. Sekarang, petani harus mengolah tanah dahulu, lalu memupuk, penyemprotan, dan masih banyak yang lain. Penduduk hutan menyakini bahwa lapisan subur di tanah telah tergerus air. Lalu bayangan saya langsung kepada penggundulan hutan, penambangan batu secara liar, dan beberapa yang lain seperti pembukaan lahan sawah di sepanjang aliran mata air.



Saya tahu hampir semua penduduk di hutan adalah pencuri. Semua menunjukkan kepada saya kayu glondongan atau yang sudah terpotong rapi yang semuanya dari hasil mencuri. Lalu mengapa mereka berbicara soal kerusakan tanah, membuat kompos, dsb kepada saya dengan lantang?



Gunung rambut adalah sebuah dusun kecil di dalam hutan. Perjalanan saya di hutan menemukan beberapa kawasan desa,dusun, atau anak dusun di dalam hutan dengan kondisi yang sama atau bahkan lebih parah. Hampir semuanya miskin. Seringkali yang terlihat kaya dipenuhi issue ilmu hitam. Dengan kemiskinan yang teramat sangat serta lokasinya yang “jauh” dengan pemerintah maka merusak alam –sesuatu yang berada antara sadar dan tidak sadar- menjadi pilihan mereka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar