Minggu, 05 April 2009
Kisah perlawana di hutan berimbas kerusakan hutan
Teman-teman, setelah air (tsunami), angin (angin puyuh), api (gunung meletus), maka selanjutnya adalah tanah.. saya berpikir tentang hutan dan rusaknya tanah.. Berikut ini cerita yang kami di kawasan hutan Ngawi-Blora untuk teman-teman sekalian.Seorang pencuri kayu di daerah hutan Ngawi meninggal mengenaskan. Korban dikeroyok para mandor perhutani, dipukuli. Seorang mandor memasukkan kayu ke mulut korban lalu menendang dagu korban ke arah atas (makan ni kayu), tewaslah pencuri kayu tersebut. Warga marah lalu para oknum mandor hilang lenyap, kabar beredar mereka ke luar pulau Jawa. Lain lagi kisah mantri perhutani yang dikenal kejam karena sering memasukkan penduduk pencuri kayu ke bui. Suatu malam ia diajak minum-minum oleh penduduk hutan. Setelah teler, istrinya yang di rumah diperkosa ramai-ramai di depan matanya. Kabar beredar, penduduk yang melakukan perkosaan lari ke luar jawa. Cerita di atas bukan omong kosong tetapi sungguh-sungguh terjadi. Saya bertemu mereka dan ngobrol santai tentang hutan tetapi lalu kami berbicara tentang kemiskinan dan perlawanan.Seorang nenek, janda dan tidak punya anak, mengaku sewaktu muda pernah dipenjara gara-gara kayu bakar. Namun sampai tua ia hidup terutama dari membuat arang. Waktu dulu beberapa penduduk hutan sebuah kawasan membuka sungai di sepanjang aliran mata air di lahan perhutani. Begitu ketahuan oleh petugas, langsung ke dalam sawah digiringlah puluhan ternak sehingga sawah petani rusak. Namun sekarang 90 persen penduduk bergantung dari sawah di aliran mata air ini dan petugas menerima beberapa sak gabah dari petani sebagai sogokan. Bagi saya, kesan yang muncul bukan sekedar criminal. Terlihat bahwa nenek ataupun penduduk hutan penggarap sawah di sepanjang aliran mata air mempertahankan perolehan kayu bakar dan gabah. Apakah masalahnya kelangkaan sumber daya?Ketika pencuri kayu mendapatkan bagian besar pohon jati maka yang lain, meski masih cukup besar, dibiarkan dan tidak diambil. Kewajiban petugas adalah mengamankan barang curian termasuk kayu yang meski cukup besar tetapi tidak dipilih oleh pencuri. Namun akan banyak kita saksikan bahwa kayu bekas pencurian masih tersisa dan tergeletak selama bulanan di tengah hutan. Temuan saya akan sebuah kasus penangkapan tujuh penduduk hutan yang membawa kayu pucukan (sisa pencurian) menarik untuk dikaji mengingat sebagai pembelaan mereka mengatakan bahwa perhutani lebih suka kayunya dimakan rayap daripada dimakan rakyatnya. Ini masalah pengelolaan hutan yang tidak baik oleh Perhutani, setidaknya pelaksanaan kerjanya.Ketika saya mencoba mendata kemiskinan pada penduduk hutan, maka definisi kemiskinan yang saya pilih yaitu dari bps, tidak dapat dijadikan dasar sama sekali. Yang paling mencolok adalah rumah. Penduduk mempunyai rumah yang sangat besar dari bahan kayu jati yang diperolehnya dari hutan. Satu rumah dapat menghabiskan sekitar dua puluh pohon dengan diameter cukup besar. Rumah penduduk hutan mengalami perubahan dari kulit jati ke kayu sekitar awal tahun 1992 sampai dengan terjadinya reformasi di Indonesia sekitar 1997-98. Namun rumah-rumah besar dari kayu biasanya hanya dapat ditemui di dusun-dusun dimana masih terdapat banyak kaum prianya. Beberapa kawasan dimana banyak didominasi kaum perempuan biasanya rumahnya tetap dari kulit jati meski ada pula kayu dengan ukuran kecil. Kaum pria identik dengan kekuatan fisik. Berbagai aksi pencurian mengandalkan kekuatan fisik selain juga keberanian.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar