Awal Nopember 2008 lalu penulis mendapatkan kesempatan untuk melatih pembuatan kompos pada petani di Dieng. Di Dieng ada masalah besar, Dieng hancur bagi petaninya dan bagi Dieng pada umumnya. Pertanian kentang bukan favorit lagi karena seringnya penyakit seperti phytoptora dan fusarium menyerang tanaman kentang. Dugaan kami karena mereka tidak paham, yakni memakai kotoran ayam mentah sebagai pupuk dan pemakaian pestisida yang berlebihan. Per ha memakai kotoran ayam naik dari 20 ton di tahun 1990, menjadi 30 ton di tahun 2000. Kelemahan kotoran ayam mentah untuk kompos adalah karena banyaknya penyakit yang dibawa yang merusak tanah dan merugikan tanaman. Karena kotoran ayam masih mentah dan menjadi panas ketika lapuk di tanah, maka berpotensi melukai tanaman. Ketika tanaman luka maka jamur masuk ke dalam luka tersebut. Jamur mengundang hewan lain untuk memakannya. Termasuk ketika sekelompok petani Dieng menfitnah orong-orong sebagai pemakan kentang, maka sebenarnya orong-orong memakan jamur. Pertanian kentang menjadi tidak favorit juga karena belanja pestisida petani semakin meningkat. Petani rata-rata mengeluarkan anggaran tidak kurang dari 15 juta rupiah per ha. Menurut informasi petani, ada 350 jenis pestisida diperdagangkan di Dieng. Tidak cukup dengan pestisida yang ada, petani memakai obat serangga rumah tangga untuk membunuh hama tanaman. Petani mengatakan bahwa semakin lama hama dan penyakit tanaman bertambah banyak, bahkan pada saat ini ketika pemakaian pestisida ditingkatkan. Secara umum, pemakaian kotoran ayam yang meningkat dan belanja pestisida yang sangat besar ternyata tidaklah meningkatkan hasil pertanian, tetapi bahkan hasil menurun pada saat ini. Menurut petani, hasil panen kentang sebelum tahun 2000 bisa mencapai 20-30 ton. Tetapi pada saat ini panen 15 ton sudah termasuk beruntung.
Kehancuran Dieng tidak saja diperlihatkan karena kegagalan bertanam kentang seperti pada masa lalu tetapi perlakuan atas lahan kentang menghancurkan Dieng sebagai hunian nyaman bagi wisatawan dan penduduknya. Penulis ingin melihat dari dua hal disebutkan di atas selain masalah lain seperti penebangan pohon dan air yang sering diangkat di media massa, yaitu pemakaian kotoran ayam mentah sebagai pupuk dan pemakaian pestisida. Pemakaian pupuk kimia relative sedikit, 1 ton per ha. Pemakaian kotoran ayam mentahlah yang sangat mencolok menimbulkan masalah. Ada sekitar 8.000 hektar lahan kentang di Dieng baik yang terletak di Wonosobo dan Banjarnegara – keluasan lahan masih bertambah pada saat ini. Seandainya per ha lahan memakai 30 ton kotoran ayam mentah, maka dibutuhkan 240.000 ton per masa tanamnya yaitu sekitar 5 bulan. Kotoran ayam dibeli dari para agen yang menampung kotoran ayam dari berbagai daerah. Kotoran ayam sebanyak itu didatangkan dari berbagai tempat yang tersebar di Jawa Tengah, Yogyakarta, dan bahkan Jawa Timur seperti dari Surabaya. Per saknya dijual antara 7.000 rupiah sampai dengan 17.000 rupiah tergantung dari banyaknya campuran. Semakin sedikit bahan ikutan seperti sekam maka harganyapun mahal. Begitu dibeli dari agen, atau langsung dari pemilik kotoran ayam, maka barang disimpan di depan rumah dalam sebuah ruang sempit, atau langsung ke dekat lahan. Ironisnya, lahan kentang sekarang berada di dekat rumah, sekolah, tempat wisata (candi dan telaga), dan tempat penting lainnya. Sedangkan bau yang ditimbulkannya sangat tidak sedap. Kotoran ayam mentah sebanyak itu telah menjadi sumber bau tidak sedap di segenap tempat di Dieng. Konon, bau tidak sedap tersebut mengurungkan niat wisatawan berkunjung ke Dieng. Konon pula, bau khas kotoran ayam tersebut membuat jumlah warung di Dieng berkurang. Lalu bagaimana dengan kondisi penduduk dan anak-anak mereka? Maka kondisi tersebut diperparah dengan penyemprotan pestisida untuk tanaman kentang. Kebanyakan tanaman kentang berada di wilayah atas dan lokasi rumah-rumah penduduk berada di lembah. Pestisida disemprotkan pagi dari sebuah tong plastik berisi pestisida dan air yang diletakkan di atas kendaraan roda empat, dan dialirkan pada selang yang panjang ke bagian atas dengan tenaga diesel. Pemandangan yang sering terlihat adalah daun tanaman kentang yang berwarna keputih-putihan yaitu warna khas pestisida. Seandainya 8000 ha lahan kentang disemprot pestisida dalam ukurun banyak, maka bagi penduduk dan anak-anaknya, penyemprotan pestisida tersebut bak hujan racun yang sangat berbahaya bagi kesehatan.
Bagaimana dampaknya pada kehancuran lingkungan Dieng? Kotoran ayam mentah adalah bahan pupuk organik. Kotoran ayam belum bisa disebut pupuk sebelum mengalami proses dekomposisi (proses menjadi kompos). Gambaran sederhananya adalah, ibarat beras, maka sebelum dimasak, beras tidak bisa dimakan manusia. Beras dengan demikian harus dimasak hingga menjadi nasi. Demikian, bahan organik mentah tidak bisa dikonsumsi langsung oleh tanaman tetapi harus mengalami dekomposisi menjadi bahan yang siap dimakan oleh tanaman. Juru masak bahan organik mentah menjadi pupuk organik adalah pengurai dan bakteri. Dugaan penulis, karena kotoran ayam yang dipakai petani Dieng berasal dari peternakan ayam potong, maka penyuntikan antibiotik pada ayam potong berpengaruh pada keberadaan bakteri di dalam kotoran ayam. Bakteri akan sedikit dan mengurangi kemampuan dekomposisi kotoran ayam. Didukung pula dengan pemakaian pestisida yang luar biasa banyaknya maka bakteri sebagai hewan terkecil akan mati terlebih dahulu dan akhirnya berpengaruh pada proses dekomposisi bahan organik. Tidak seperti pupuk organik, bahan organik mentah akhirnya tidak memiliki fungsi-fungsi pupuk organik di antaranya kemampuan menyerap air. Munculnya lahan gambut di sekitar tepi telaga di Dieng diduga karena kotoran ayam yang terbawa air ke dataran dibawahnya. Lahan gambut dalam hal ini terbentuk karena waterlogged bahan organik yang sulit diolah oleh aktivitas bakteri.
Menurut penulis, penyelesaian masalah di atas adalah antara lain dengan sosialisasi dan pelatihan pupuk organik secara luas disertai dengan uji coba di lapangan. Salah satu ciri pupuk organik yang baik adalah tidak berbau. Pada tahun 1980, sebelum petani memakai kotoran ayam mentah, petani memakai pupuk organik dari bahan jamur. Kepada penulis petani menceritakan bahwa kemudian mereka ditipu. Setelah itu mereka beralih ke kotoran ayam, lebih lagi karena kotoran ayam berbau sehingga tidak mungkin ditipu. Maka menjadi tugas ke depan adalah melatih dan mendorong petani untuk membuat pupuk organik sendiri. Bahan kotoran hewan memang tidak tersedia banyak di Dieng, tetapi bahkan petani dapat mengusahakan bahan dari lingkungan sekitar seperti dari limbah kentang, tumbuhan lain dan sumber alam lainnya di Dieng. Dari informasi yang dikumpulkan penulis, terdapat kelompok petani kentang organik di Desa Kepakisan, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara. Nama kelompoknya adalah Perkasa. Mereka memang baru belajar memahami pupuk organik. Beberapa anggotanya bahkan sudah menerapkan pemakaian kompos di lahan kentang beberapa kali. Seorang petani bercerita bahwa ia mengalami kerugian 200 juta rupiah sebelum akhirnya ia memanen 50 ton per ha kentang, sebuah jumlah panen yang sangat besar yang belum pernah dihasilkan petani sejak tahun 1990. Ia memakai pupuk organik dari hasil belajar sendiri. Pemakaian kotoran ayam berkurang, demikian juga dengan pestisidanya. Keuntungannya tentu berlipat karena pupuk organik dibuatnya sendiri dari bahan di sekitarnya.
Dengan pupuk organik maka diyakini penulis, akan menyejahterakan penduduk Dieng bahkan bagi penduduk yang hanya pekerja. Upah pekerja di Dieng sangat rendah. Untuk yang perempuan maka bekerja mulai jam 8 pagi sampai jam 3 siang diberi upah 10.000 sampai 12.000 rupiah. Upah tersebut sudah termasuk makan dan minum. Karena itu seandainya petani kentang beralih ke pupuk organik, maka jumlah kebutuhan pupuk organik sangat besar dan penduduk setempat tentu dapat lebih terlibat dalam penyediaan pupuk organik yang bahan-bahannya ada di sekitar Dieng. Keuntungan dengan demikian tidak hanya dimiliki investor dari luar atau lembaga pembiayaan, toko pertanian, dan pihak lainnya, tetapi juga penduduk setempat yang mau terlibat dalam pengadaan pupuk organik untuk kentang. Maka keuntungan lain karena aplikasi pupuk organik dapat disebutkan di sini yaitu udara Dieng bebas dari bau tidak sedap dan racun sehingga penduduk bebas dari bahaya kesehatan, pariwisata juga terdongkrak naik, sampai dengan masalah konservasi. Khusus berkaitan dengan konservasi maka karena memakai pupuk organik maka erosi sampai dengan tahap tertentu dapat tertahan. Hal ini diakibatkan oleh kemampuan pupuk organik menyerap air. Air hujan tidak serta merta jatuh dan mengalir ke bawah melainkan terserap dan disimpan tanah berpupuk organik.
Bagaimana halnya dengan masalah air dan penebangan pohon? Seandainya dengan pupuk organik pertanian kentang menjadi favorit lagi maka bukankah dimungkinkan tanaman kentang semakin meluas hingga memungkinkan penebangan pohon lebih banyak lagi. Dengan bertambahnya lahan maka pengambilan air dari telaga dan sumber air semakin banyak pula. Pada saat ini, petani memakai paralon dari sumber mata air atau telaga hingga ke lahan bagian atas yang jaraknya bisa mencapai 1-2 km. Karena itu paralon-paralon tersebut sangat banyak dan panjang melawati lahan-lahan, jalan, hutan hingga ke lahan bagian atas. Jadi apakah demikian yang akan terjadi? Maka jawabannya adalah pertama bahwa pada saat ini ketika pertanian kentang bukan favorit lagi, petani tetap saja menebang pohon dan memakai air dengan tidak bijak maka lebih baik mengajak petani memakai pupuk organik dan menekan penebangan pohon lebih banyak lagi. Kedua, petani dibawa pada pemahaman yang benar dan mendalam soal pupuk organic, bukan sekedar pelatihan pembuatan tetapi dasar-dasar mengapa pupuk organik penting sehingga mencakup misalnya ekologi tanah, pertanian yang ramah lingkungan dan berkelajutan, dan sebagainya. Maka pemahaman pupuk organik akan pula mencakup tentang bagaimana memanfaatkan air dengan bijaksana dan pentingnya penanaman pohon bagi petani sendiri. Daripada sekedar menyelamatkan dengan program-program konservasi yang sering tidak bersinggungan langsung dengan kebutuhan petani (pertanian kentang), maka lebih menarik tentunya bagi petani untuk menyelesaikan masalah lingkungan dengan memulainya lewat perbaikkan pertanian kentang dalam hal ini pupuk organik.
Kehancuran Dieng tidak saja diperlihatkan karena kegagalan bertanam kentang seperti pada masa lalu tetapi perlakuan atas lahan kentang menghancurkan Dieng sebagai hunian nyaman bagi wisatawan dan penduduknya. Penulis ingin melihat dari dua hal disebutkan di atas selain masalah lain seperti penebangan pohon dan air yang sering diangkat di media massa, yaitu pemakaian kotoran ayam mentah sebagai pupuk dan pemakaian pestisida. Pemakaian pupuk kimia relative sedikit, 1 ton per ha. Pemakaian kotoran ayam mentahlah yang sangat mencolok menimbulkan masalah. Ada sekitar 8.000 hektar lahan kentang di Dieng baik yang terletak di Wonosobo dan Banjarnegara – keluasan lahan masih bertambah pada saat ini. Seandainya per ha lahan memakai 30 ton kotoran ayam mentah, maka dibutuhkan 240.000 ton per masa tanamnya yaitu sekitar 5 bulan. Kotoran ayam dibeli dari para agen yang menampung kotoran ayam dari berbagai daerah. Kotoran ayam sebanyak itu didatangkan dari berbagai tempat yang tersebar di Jawa Tengah, Yogyakarta, dan bahkan Jawa Timur seperti dari Surabaya. Per saknya dijual antara 7.000 rupiah sampai dengan 17.000 rupiah tergantung dari banyaknya campuran. Semakin sedikit bahan ikutan seperti sekam maka harganyapun mahal. Begitu dibeli dari agen, atau langsung dari pemilik kotoran ayam, maka barang disimpan di depan rumah dalam sebuah ruang sempit, atau langsung ke dekat lahan. Ironisnya, lahan kentang sekarang berada di dekat rumah, sekolah, tempat wisata (candi dan telaga), dan tempat penting lainnya. Sedangkan bau yang ditimbulkannya sangat tidak sedap. Kotoran ayam mentah sebanyak itu telah menjadi sumber bau tidak sedap di segenap tempat di Dieng. Konon, bau tidak sedap tersebut mengurungkan niat wisatawan berkunjung ke Dieng. Konon pula, bau khas kotoran ayam tersebut membuat jumlah warung di Dieng berkurang. Lalu bagaimana dengan kondisi penduduk dan anak-anak mereka? Maka kondisi tersebut diperparah dengan penyemprotan pestisida untuk tanaman kentang. Kebanyakan tanaman kentang berada di wilayah atas dan lokasi rumah-rumah penduduk berada di lembah. Pestisida disemprotkan pagi dari sebuah tong plastik berisi pestisida dan air yang diletakkan di atas kendaraan roda empat, dan dialirkan pada selang yang panjang ke bagian atas dengan tenaga diesel. Pemandangan yang sering terlihat adalah daun tanaman kentang yang berwarna keputih-putihan yaitu warna khas pestisida. Seandainya 8000 ha lahan kentang disemprot pestisida dalam ukurun banyak, maka bagi penduduk dan anak-anaknya, penyemprotan pestisida tersebut bak hujan racun yang sangat berbahaya bagi kesehatan.
Bagaimana dampaknya pada kehancuran lingkungan Dieng? Kotoran ayam mentah adalah bahan pupuk organik. Kotoran ayam belum bisa disebut pupuk sebelum mengalami proses dekomposisi (proses menjadi kompos). Gambaran sederhananya adalah, ibarat beras, maka sebelum dimasak, beras tidak bisa dimakan manusia. Beras dengan demikian harus dimasak hingga menjadi nasi. Demikian, bahan organik mentah tidak bisa dikonsumsi langsung oleh tanaman tetapi harus mengalami dekomposisi menjadi bahan yang siap dimakan oleh tanaman. Juru masak bahan organik mentah menjadi pupuk organik adalah pengurai dan bakteri. Dugaan penulis, karena kotoran ayam yang dipakai petani Dieng berasal dari peternakan ayam potong, maka penyuntikan antibiotik pada ayam potong berpengaruh pada keberadaan bakteri di dalam kotoran ayam. Bakteri akan sedikit dan mengurangi kemampuan dekomposisi kotoran ayam. Didukung pula dengan pemakaian pestisida yang luar biasa banyaknya maka bakteri sebagai hewan terkecil akan mati terlebih dahulu dan akhirnya berpengaruh pada proses dekomposisi bahan organik. Tidak seperti pupuk organik, bahan organik mentah akhirnya tidak memiliki fungsi-fungsi pupuk organik di antaranya kemampuan menyerap air. Munculnya lahan gambut di sekitar tepi telaga di Dieng diduga karena kotoran ayam yang terbawa air ke dataran dibawahnya. Lahan gambut dalam hal ini terbentuk karena waterlogged bahan organik yang sulit diolah oleh aktivitas bakteri.
Menurut penulis, penyelesaian masalah di atas adalah antara lain dengan sosialisasi dan pelatihan pupuk organik secara luas disertai dengan uji coba di lapangan. Salah satu ciri pupuk organik yang baik adalah tidak berbau. Pada tahun 1980, sebelum petani memakai kotoran ayam mentah, petani memakai pupuk organik dari bahan jamur. Kepada penulis petani menceritakan bahwa kemudian mereka ditipu. Setelah itu mereka beralih ke kotoran ayam, lebih lagi karena kotoran ayam berbau sehingga tidak mungkin ditipu. Maka menjadi tugas ke depan adalah melatih dan mendorong petani untuk membuat pupuk organik sendiri. Bahan kotoran hewan memang tidak tersedia banyak di Dieng, tetapi bahkan petani dapat mengusahakan bahan dari lingkungan sekitar seperti dari limbah kentang, tumbuhan lain dan sumber alam lainnya di Dieng. Dari informasi yang dikumpulkan penulis, terdapat kelompok petani kentang organik di Desa Kepakisan, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara. Nama kelompoknya adalah Perkasa. Mereka memang baru belajar memahami pupuk organik. Beberapa anggotanya bahkan sudah menerapkan pemakaian kompos di lahan kentang beberapa kali. Seorang petani bercerita bahwa ia mengalami kerugian 200 juta rupiah sebelum akhirnya ia memanen 50 ton per ha kentang, sebuah jumlah panen yang sangat besar yang belum pernah dihasilkan petani sejak tahun 1990. Ia memakai pupuk organik dari hasil belajar sendiri. Pemakaian kotoran ayam berkurang, demikian juga dengan pestisidanya. Keuntungannya tentu berlipat karena pupuk organik dibuatnya sendiri dari bahan di sekitarnya.
Dengan pupuk organik maka diyakini penulis, akan menyejahterakan penduduk Dieng bahkan bagi penduduk yang hanya pekerja. Upah pekerja di Dieng sangat rendah. Untuk yang perempuan maka bekerja mulai jam 8 pagi sampai jam 3 siang diberi upah 10.000 sampai 12.000 rupiah. Upah tersebut sudah termasuk makan dan minum. Karena itu seandainya petani kentang beralih ke pupuk organik, maka jumlah kebutuhan pupuk organik sangat besar dan penduduk setempat tentu dapat lebih terlibat dalam penyediaan pupuk organik yang bahan-bahannya ada di sekitar Dieng. Keuntungan dengan demikian tidak hanya dimiliki investor dari luar atau lembaga pembiayaan, toko pertanian, dan pihak lainnya, tetapi juga penduduk setempat yang mau terlibat dalam pengadaan pupuk organik untuk kentang. Maka keuntungan lain karena aplikasi pupuk organik dapat disebutkan di sini yaitu udara Dieng bebas dari bau tidak sedap dan racun sehingga penduduk bebas dari bahaya kesehatan, pariwisata juga terdongkrak naik, sampai dengan masalah konservasi. Khusus berkaitan dengan konservasi maka karena memakai pupuk organik maka erosi sampai dengan tahap tertentu dapat tertahan. Hal ini diakibatkan oleh kemampuan pupuk organik menyerap air. Air hujan tidak serta merta jatuh dan mengalir ke bawah melainkan terserap dan disimpan tanah berpupuk organik.
Bagaimana halnya dengan masalah air dan penebangan pohon? Seandainya dengan pupuk organik pertanian kentang menjadi favorit lagi maka bukankah dimungkinkan tanaman kentang semakin meluas hingga memungkinkan penebangan pohon lebih banyak lagi. Dengan bertambahnya lahan maka pengambilan air dari telaga dan sumber air semakin banyak pula. Pada saat ini, petani memakai paralon dari sumber mata air atau telaga hingga ke lahan bagian atas yang jaraknya bisa mencapai 1-2 km. Karena itu paralon-paralon tersebut sangat banyak dan panjang melawati lahan-lahan, jalan, hutan hingga ke lahan bagian atas. Jadi apakah demikian yang akan terjadi? Maka jawabannya adalah pertama bahwa pada saat ini ketika pertanian kentang bukan favorit lagi, petani tetap saja menebang pohon dan memakai air dengan tidak bijak maka lebih baik mengajak petani memakai pupuk organik dan menekan penebangan pohon lebih banyak lagi. Kedua, petani dibawa pada pemahaman yang benar dan mendalam soal pupuk organic, bukan sekedar pelatihan pembuatan tetapi dasar-dasar mengapa pupuk organik penting sehingga mencakup misalnya ekologi tanah, pertanian yang ramah lingkungan dan berkelajutan, dan sebagainya. Maka pemahaman pupuk organik akan pula mencakup tentang bagaimana memanfaatkan air dengan bijaksana dan pentingnya penanaman pohon bagi petani sendiri. Daripada sekedar menyelamatkan dengan program-program konservasi yang sering tidak bersinggungan langsung dengan kebutuhan petani (pertanian kentang), maka lebih menarik tentunya bagi petani untuk menyelesaikan masalah lingkungan dengan memulainya lewat perbaikkan pertanian kentang dalam hal ini pupuk organik.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar