Senin, 27 April 2009

“Antara Petani Blandong (Kayon) dan Baon”


Kalau mau kayu ya harus ikut baon, begitu kata seorang penduduk hutan mengomentari beberapa warga lain yang selesai melakukan blandong tetapi selama beberapa waktu itu tidak melakukan kegiatan baon. Baon dan blandong adalah istilah yang berbeda. Pada saat yang lalu ketika pengelolaan hutan masih dipegang kolonial, blandong adalah kegiatan menebang dan mengangkut kayu di hutan. Seiring perubahan pengaturan pengelolaan hutan, masih oleh kolonial waktu itu, blandong tidak hanya menyangkut penebangan dan pengangkutan kayu, tetapi meliputi pula penanaman lahan bekas tebangan. Penanaman kembali lahan bekas tebangan inilah yang dinamai baon. Berbeda dengan saat itu, pada saat sekarang ini, baon meliputi pula penanaman tanaman palawija oleh penduduk yang hasil sepenuhnya dimiliki petani baon, syaratnya petani ikut merawat tanaman pokok Perhutani (jati) di lahan baon mereka. Sedangkan istilah blandong sudah dihapus. Blandong yang masih hidup hanya yang hidup di kalangan masyarakat sendiri, dimaknai sebagai mencuri kayu.

Di antara penduduk ada sebutan “kayon” untuk para pelaku blandong. Memang mungkin semua penduduk hutan pernah blandong, tetapi kira-kira kayon merupakan sebutan untuk membedakan antara yang betul-betul tergantung pada mencuri kayu dan yang mencuri kayu untuk kebutuhan seperlunya misalnya untuk membuat rumah. Ada perbedaan perilaku antara kayon dengan penduduk hutan. Kayon mempunyai gaya hidup tinggi sehingga enggan mengerjakan lahan. Mereka merasa bahwa hasil dari kayu sangat besar bahkan setelah dipakai untuk kebutuhan rumah dan makan-minum di warung. Daerah-daerah dimana pencurian kayu marak memang terdapat banyak warung. Warung yang dimaksud adalah warung kopi dimana disajikan pula biasanya makanan kecil dan besar. Kayon juga biasanya terlibat minuman keras. Warung-warung menyediakannya. Warung juga kadang menyediakan jasa seks. Ada sebutan “warung ayu” dimana penjual, tetapi tidak mesti, menjajakan pula dirinya di luar kegiatan dagang untuk seks.

Jadi memang ini sangat berbeda dengan penduduk hutan kebanyakan dimana pertanian dan perkebunan merupakan tumpuan hidupnya, yang digelutinya siang malam dengan daya upayanya untuk memperoleh hasilnya. Bahkan penduduk yang demikian menunjukkannya ketika mereka mengusahakan kayu untuk kebutuhan mereka. Mereka tidak langsung menebang pohon melainkan mencoba membeli dari penduduk lainnya. Bahkan ditemukan penulis mereka meminta langsung pada petugas dalam hal ini biasanya Mantri Hutan. Permintaan yang dilakukan dengan baik sangat sulit ditolak oleh mantri hutan sebab permintaan biasanya dating dari petani yang baik perilakunya dan permintaannya atas kayu juga tidak terlalu banyak dan tidak terlalu bagus. Petani demikian sangat berharga bagi mantri hutan sebab membantu dalam kegiatan penanaman jati dan penggarapan baon. Mantri hutan hampir tidak mungkin berhasil tanpa mereka sebab keterbatasan tenaga tanam dan waktu. Apalagi lahan hutan butuh diolah dan jati sebagai tanaman pokok Perhutani juga perlu dirawat. Keluasan satu kemantren biasanya sekitar 700 sampai 1200 hektar, sedangkan tenaga tanam Perhutani hanya 3 (tiga) orang saja.
Anton Nur

Tidak ada komentar:

Posting Komentar