Sebuah keluarga terdiri dari anak, ibu , dan bapak, berjalan tanpa tujuan mencari tempat untuk tinggal. Di tengah hutan mereka berjalan kira-kira 8 km dari tempat mereka menetap sebelumnya. Mereka baru saja "diusir" pergi keponakannya sendiri. Mungkin alasan ekonomi, membebani. Mereka lalu berhenti pada sebuah Dusun, Gunung Rambut namanya. Oleh sesepuh dusun mereka diperbolehkan tinggal. Ditawarkan sebuah tempat yang masih kawasan warga. Namun keluarga ini memilih tempat di luar wilayah dusun. Mereka memilih wilayah Perhutani di dekat wilayah Dusun Gunung Rambut.
Oleh penduduk setempat mereka dibuatkan gubuk karena penduduk pikir keluarga ini hanya akan tinggal sementara. Sebab ketika ditawari pula berganti KTP, mereka menolak. Di KTP, mereka merupakan warga sebuah kawasan jauh dari Gunung Rambut. Letaknya masih di dalam hutan tetapi hutan yang lain. Beberapa cerita warga tempat asal-usulnya dulu, mereka diusir warga karena menjadi informan Perhutani terhadap kegiatan pencurian kayu penduduk setempat.
Kondisi mereka miskin, tidak punya apa-apa. Yang Bapak sakit hernia, si Ibu kurus dan ada masalah dengan tulang lehernya sehingga tidak bisa menoleh. Sedangkan si Anak mentalnya agak mundur. Ketiganya tinggal di dalam gubuk bahkan ketika hujan.
Saya mengetahui hal ini dan mencoba menghubungi donatur-donatur yang ada untuk mendapatkan pertolongan bagi keluarga ini. Sebuah keluarga menyumbang genteng dan uang. Genteng ini harusnya untuk pembangunan masjid, tetapi karena belum berlangsung pembangunannya maka genteng diberikan. Lalu ada bantuan papan dari bambu. Selanjutnya, saya menghubungi penduduk Gunung Rambut dan mengajak kerja bakti memperbaiki gubuk ini. Lalu 11 orang penduduk bersedia telibat.
JAdilah rumah sederhana. Setidaknya keluarga ini bisa tinggal tanpa terganggu hujan atau panas. Angin juga tidak terlalu mengganggu mereka. Penduduk Gunung Rambut, meski juga miskin, beberapa tergerak hatinya untuk membantu. Ada yang meminjamkan kambing untuk dianakan. Keluarga ini juga bisa membuka lahan sekitar gubuknya untuk menanam jagung, kacang tanah, atau kedelai. Ia dalam hal ini mendapat kemurahan Mantri Perhutani.
Sewaktu truk pengangkut batu di hutan lewat rumah mereka, si sopir bertanya dengan berteriak: "gentengnya kok baru dari mana?". Jawab mereka,"dari Gusti Allah."
Anton Nur

Tidak ada komentar:
Posting Komentar