Selasa, 31 Maret 2009

tanpa tempat tinggal di dalam hutan

Sebuah keluarga terdiri dari anak, ibu , dan bapak, berjalan tanpa tujuan mencari tempat untuk tinggal. Di tengah hutan mereka berjalan kira-kira 8 km dari tempat mereka menetap sebelumnya. Mereka baru saja "diusir" pergi keponakannya sendiri. Mungkin alasan ekonomi, membebani. Mereka lalu berhenti pada sebuah Dusun, Gunung Rambut namanya. Oleh sesepuh dusun mereka diperbolehkan tinggal. Ditawarkan sebuah tempat yang masih kawasan warga. Namun keluarga ini memilih tempat di luar wilayah dusun. Mereka memilih wilayah Perhutani di dekat wilayah Dusun Gunung Rambut.

Oleh penduduk setempat mereka dibuatkan gubuk karena penduduk pikir keluarga ini hanya akan tinggal sementara. Sebab ketika ditawari pula berganti KTP, mereka menolak. Di KTP, mereka merupakan warga sebuah kawasan jauh dari Gunung Rambut. Letaknya masih di dalam hutan tetapi hutan yang lain. Beberapa cerita warga tempat asal-usulnya dulu, mereka diusir warga karena menjadi informan Perhutani terhadap kegiatan pencurian kayu penduduk setempat.

Kondisi mereka miskin, tidak punya apa-apa. Yang Bapak sakit hernia, si Ibu kurus dan ada masalah dengan tulang lehernya sehingga tidak bisa menoleh. Sedangkan si Anak mentalnya agak mundur. Ketiganya tinggal di dalam gubuk bahkan ketika hujan.

Saya mengetahui hal ini dan mencoba menghubungi donatur-donatur yang ada untuk mendapatkan pertolongan bagi keluarga ini. Sebuah keluarga menyumbang genteng dan uang. Genteng ini harusnya untuk pembangunan masjid, tetapi karena belum berlangsung pembangunannya maka genteng diberikan. Lalu ada bantuan papan dari bambu. Selanjutnya, saya menghubungi penduduk Gunung Rambut dan mengajak kerja bakti memperbaiki gubuk ini. Lalu 11 orang penduduk bersedia telibat.

JAdilah rumah sederhana. Setidaknya keluarga ini bisa tinggal tanpa terganggu hujan atau panas. Angin juga tidak terlalu mengganggu mereka. Penduduk Gunung Rambut, meski juga miskin, beberapa tergerak hatinya untuk membantu. Ada yang meminjamkan kambing untuk dianakan. Keluarga ini juga bisa membuka lahan sekitar gubuknya untuk menanam jagung, kacang tanah, atau kedelai. Ia dalam hal ini mendapat kemurahan Mantri Perhutani.

Sewaktu truk pengangkut batu di hutan lewat rumah mereka, si sopir bertanya dengan berteriak: "gentengnya kok baru dari mana?". Jawab mereka,"dari Gusti Allah."



Anton Nur

Minggu, 29 Maret 2009

Anak Dusun Watu Pawon dan Mitos "Larangan Lanang"..

Saya mendapatkan cerita, sebuah anak dusun di tengah hutan Ngawi hampir punah penduduknya, hanya tinggal janda-janda tua saja. Anak Dusun Watu Pawon, begitu nama kawasan terpencil ini. Mewakili gambaran beberapa kawasan lain yang juga berada di tengah hutan, kawasan ini tidak hanya terpencil secara geografis tetapi juga sosial. Penelusuran sampai saat ini menemukan bahwa penduduk hutan seperti footnote saja dalam catatan pembangunan.
Seorang janda tua penduduk kawasan ini rumahnya hanya 2 kali 3 meter saja. Terbuat dari "gedeg" dengan atap alang-alang rusak membuat janda tua ini hanya bisa berlindung dibalik tampah ketika hujan. Penduduk juga tidak tahu dan jarang mendapatkan jatah raskin sehingga mereka makan tiwul atau gaplek saja. Saya pernah diajak makan olehnya dan kepada saya diberikan piring yang bagus dari kaca, sedangkan untuk dirinya sendiri memakai piring seng. Tidak ada lauk, cuma nasi dengan sayur ceme.
Namun kegiatan yang saya lakukan selanjutnya yakni publikasi telah mengundang keprihatinan banyak orang dan pihak sehingga ada perubaha perlakuan. Banyak orang berkunjung ke tempat ini, bercerita sampai dengan memberi perhatian lebih jauh misalnya pengamanan pangan dan kesehatan. Pemerintah daerah juga lebih memperhatikan misalnya dalam pemabgian raskin mereka didahulukan. Lurah dan Camat juga bertemua warga dan berjanji memperhatikan selalu kondisi penduduk kawasan ini.
Sekarang penduduknya tinggal dua orang, perempuan semua dan mereka bertahan di hutan sampai sekarang. Ada berita bahwa banyak sudah kawasan tak berpenghuni di dalam hutan. Akankan Watu Pawon juga begitu? Berikut penelusuran pertama saya di kawasan ini :
Sekilas Tentang Watu Pawon

(Laporan Survey Lapangan, 24 Nopember 2000)

Lokasi
Lokasi: di dalam lingkup hutan Perhutani. Jarak dari pos Polsushut (belakangan, pos 37 RPH Getas) sekitar 1 Km.
Luas lokasi sekitar 5 Ha.

Secara administratif masuk dalam dusun Jurug Desa Dumplengan Kecamatan Pitu Kabupaten Ngawi. Watu Pawon , RT I, biasa disebut sebagai (salah) “anak dusun” Jurug. Jurug sendiri merupakan salah satu dusun dari 5 dusun di wilayah desa Dumplengan, dusun2 yang lain adalah Dumplengan, Singget, Jugong, Binoyo dan Jurug.

Background sejarah
Pertama kami mencoba menelusur dari Mbah Wongsodosol. Ternyata mbah W –ngakunya—tidak banyak tahu.

Penelusuran berlanjut pada Mbah Kasinem, yang oleh sementara warga, dianggap paling tua. Kami mencoba menelusur dari silsilah keluarga mbah Kasinem (Lihat lamp. Silsilah Mbah Kasinem).

Menempatkan Mbah Kasinem sebagai ego. Mbah Kasinem ini adalah sulung dari 4 bersaudara anak-anak Sakimah dan Tromejo. Adik-adiknya bernama Kasinah, Kasirah Suminah.
Moro mempunyai 2 orang anak: Noyomeja dan Sadir.
Noyomejo bin Moro nikah dengan Tumpak, mempunyai 8 anak: Sakimah (sulung), Singomejo (pindah di Gunung Rambut), Senen tinggal di Dhung Gede, Setu tinggal di Ngantepan, Ngat (Supangan? Ngahat?) tinggal di Gunung Rambut, Kimin tinggal di Prumban(?). Sakimah nikah dengan Tromejo, mempunyai empat orang anak: Kasinem (ego), Kasinah, Kasirah dan Suminah.
Perkawinan ego dengan Cokrorejo (dilakukan pada z. lurah ke dua, kira2 1921) membuahkan 5 anak. Anak pertama bernama Slamet, kedua Sukinem, ketiga Sukini (yang lahir sekitar jaman Jepang), keempat Tugimin (sudah meninggal) dan yang bungsu Tugani alias Sumarni.
Sadir bin Moro
Sadir menikah dengan Kasiyah; mempunyai 5 orang anak, yaitu Sadinem si sulung mempunyai 12 anak tetapi semuanya meninggal, Sadin (tidak punya anak), Ikrama pindah ke Tepus, Sadiyem tidak punya anak, Dimin tidak punya anak.

Menempatkan Mbak Sadikun sebagai ego. Ego 3 bersaudara dengan Suminten dan Suratmi, anak2 Wongsosiran dan Kasiyem (asli). Kasiyem bersaudara dengan Surip adalah anak2 dari Kasinah dan Diman.

Menempatkan Pak Karnadi sebagai ego. Ego menikah dengan Suwarti (anak Sukinem dengan Astrosetu), mempunyai 6 orang anak: Wiyono (anak I, pindah ke Boyolali), Suyoto (anak II, pindah ke Palur), Suwarso, Maryono, Milah, Sriyanto.
Lihat silsilah halaman selanjutnya…
Ekonomi:
1. Ada dua sumur: satu di sebuah ladang, dulunya cuma mbelikan semakin lama digali lama2 jadi sumur (kedalaman sekitar 8 m; pakai katrol dan tali karet); satu lagi di dekat rumah mbah Wongsodosol (pake pompa). Kedua sumber itu bisa dipastikan airnya, bahkan di musim kemarau.
2. Kepemilikan lahan, hampir separo lahan di Watu Pawon telah beralih tangan, dibeli oleh orang2 luar (Gunung Rambut). Sementara ini lahan2 yang pindah tangan itu ditanami oleh tebu.
3. Tanaman pertanian:
jagung biasa dikonsumsi sendiri,
kedelai,
kacang, kasus Pak Karnadi sekali panen kira2 dapat 7 sak. sekilonya Rp 1000,-
ketela (jarang, paling digaplek dan dikonsumsi sendiri),
pisang, dijual, setundunnya dijual 2000 – 3000 kadang 5000
4. Hasil hutan: kropo (daun jati), ngrencek/dongkel utk kayu bakar. Kedua jenis hasil hutan ini selain dijual juga dikonsumsi sendiri. Pada musim2 tertentu, biasanya musim labuh (setelah ketiga, sebelum rendeng), juga panen kunci/enthung/puyang
5. Industri rumah tangga: arang. Bahan diambil dari hutan disekitar. Rencek dan dongkel(an) yang bahan bakunya. Pembuatan sekitar 3 hari, mulai dari mencari bahan baku sampai dengan jadi. Biasanya dijual sendiri ke Ngawi. Ttg bahan baku: ada simbiosis dengan kasus2 pencurian kayu. Bekas2 dongkelan dan renceknya atau juga daunnya dapat dimanfaatkan oleh warga Watu Pawon. Melihat posisi WP, yang berada di antara Perhutani dan masyarakat peminat kayu, ada kemungkinan WP memang menjaga hubungan baik dengan kedua belah pihak.
6. Ternak: kambing menjadi pilihan utama.

Religi:
- Mitos “turunan lanang” ora awet uripe. Ada “tradisi” bahwa setiap lelaki asli yang beranjak dewasa dan menikah akan keluar dari Watu Pawon. Dari sini, setidaknya menjadi “jawaban” atas beberapa hal: kebanyakan perempuan, sistem pewarisan tanah, penghindaran incest-taboo, lelaki disitu sedikit dan umumnya pendatang. Dua contoh kasus, misalnya, mbah Wongso yang dari Randublatung dan P. Karnadi. Mereka sama2 mengawini perempuan Watu Pawon.mitos “danyang”. Mitos ini tadi dimunculkan oleh Mbah Kasinah saat membicarakan persoalan relokasi/resettlement. Belum diketahui siapa yang mendapat wangsit soal dhanyan. Dikatakan bahwa dua orang telah mendapat ‘hukuman’ dari dhanyang, Lurah Amir dan orang yang membelah Watu Pawon.
- Punden. Sebenarnya ini lah yang menjadi asal nama Wartu Pawon. Bentuk batuab yang menjadi punden ini –dinilai-- memang menyerupai pawonan. Sekarang ini watu pawon sudah mulai termakan akar pohonan. Dikatakan juga bahwa sebenarnya –dulu—punden itu sering menjadi tempat ziarah (lazimnya tempat ziarah, ada ‘juru kunci’/mediator)
- Dulu nyadran di sendang, tiap bulan besar dan sapar nglumpuk di sendang dan nguras sendang (sekarang tidak lagi, karena sendangnya sudah tidak ada lagi, “dadi alas”); dan di pundhen (pundhennya 2 buah watu pawon, tapi kemudian oleh sso dibelah menjadi 4. Orangnya mati di tempat); sekarang nyadran di rumah masing-masing.
- Sesepuh: Mbah Wongsodoso. “Sing nanduke” saat ritus2 tradisional.
- Pekuburan/pesarean/kramatan menjadi satu dengan warga Gunung Rambut.


Lain2
Relokasi/resettlement; isu ini muncul pada masa Lurah Amir. Kemungkinan besar ide itu muncul dari P. Amir sendiri. Ada 3 ‘tahap’:
Pertama Warga WP tidak setuju dengan kepindahan
Kedua warga setuju untuk pindah, dengan syarat ada “ijol pekarangan”. Saat ada warga yang menanyakan realisasi kepindahan itu dijawab oleh mantri polisi (( masuknya mantri polisi dalam kasus ini?) bahwa “nenggo keluarnya surat di Jakarta” (?!!)
Ketiga persyaratan disetujui, tapi berhubung ada mutasi (besar2an? Atau perpindahan administrasi kecamatan) di kantor kecamatan, maka rencana relokasi itu tinggal rencana.
Ada mitos dari mbah Kasinah: sebenarnya dhanyang mriki mboten setuju warga pindah. Buktinya “Sampun kedadosan … Lurahe puthes, mati. Dipundhut Danyang Watu Pawon” Warga sini disuruh nunggu Watu Pawon.

Jembatan Bengawan Solo. Cerita dari P. Agung: sebelum ada jembatan pada hari-hari tertentu, pagi2 sekali ada parade obor dari arah desa/hutan. Rombongan orang yang akan nyebrang untuk berjualan hasil hutan/pertanian.

Urutan Pemimpin Kademangan/kelurahan/desa (info dari mbah Wongsosiran):
I. Demang Darso (asal Ngandong)?
II. Demang Proyorejo (asal Jugong; buyutnya mbah Sadikun)
III. Lurah Rusmidi (asal Jurug)…-1948
IV. Lurah Joyo (asal Jurug) 1948 - 1949
V. Lurah Amir (asal Jurug; kasus relokasi muncul) 1949-1980
VI. Lurah Prapto (asal Dumplengan) 1981-1998
VII. Lurah Guniran (asal Jugong; lurah sekarang) 1999 - sekarang

(Laporan Survey Lapangan, 25 Nopember 2000)

A.
Setting:
Beranda rumah. Rumah kayu, dinding dibuat dari kombinasi papan-kulit kayu-gedhek. (Sekilas di dalam dapur perabotan dari kayu jati. Bangku, meja, tempat tidur, lumpang.)

Narasumber Mbah Wongsodosol plus istrinya (mbah Raginem) dan dua orang pria (salah satunya adalah menantu Mbah Wo; dan satunya bernama Dar). Kedua orang ini bekerja di kebun tebu (yang milik orang GR itu lho)
Anak 5, laki 3, seorang padang, pati, gr. Dan 2 orang perempuan di wp semua.

Mbah wo adalah tiyang sengkan, begitu istilah yang dia pakai, pendatang dari Randublatung, Blora. Dia datang ke Watu Pawon pada zaman Jepang. Zaman dimana “kathah tiyang mati ning ndalan”. Saat itu dia “lola”, ke watu pawon dalam rangka mencari sandaran hidup.

Sejarah
Hubungan WP dengan daerah lain. Dikatakan bahwa WP mendahului beberapa dusun yang lain seperti GR dan Kali Kangkung.

· Sedang dicoba untuk menguraikan hubungan nama mulai dari Watu Pawon ( dapur ) –- Kali Soga ( tempat mencuci beras )-- Ngantepan ( tempat ngentepna dandang )– Kali Banger ( tempat membuang cucian beras)

Dulu hanya dua pasang. Namanya Mbah Do bersaudara. Tidak diketahui asalnya. Menurut Mbah Wo, keplayu mestine. Dari mbah Do nurun mbah Kumbang, mbah Ngatmo. Kalo cari latu di gunung rambut. Kemudian berkembang. Kuburannya ada di situ, sampai sekarang

Penduduk
Sini 9 omah “etungane”, jumlahe. Kalu kumpulan datang ke sana (warung, rumah pak di). Yang datang yang jaler2.

Orang sakit
Kalau ada orang sakit ngundang petugas dari daerah sekitar.

Soal punden watu pawon.
Penduduk WP malah kadang tidak tahu bahwa punden-nya itu bisa membawa berkah, memberikan “pangestu”. Hanya tahu2 ada orang luar datang dan kulonuwun lantas kemudian ke punden. . “Nek badhe teng mbahe nggih liwat rakyate rumiyin” kata mbah Raginem, saat kutanyakan apakah para orang yang nepi itu langsung ke punden ataukah ke Watu Pawon (=dusun) dulu.

Punden dibiarkan tak terawat. Karena memang dia-nya gak mau dirawat. “Gak gelem diresiki, ra gelem dibancaki”. “Niko nek tiyang tebih kathah kasile”. Pernah ada orang yang njago lurah dari nganjuk, sing ngeterke bapake. Saat mbah wo ditanayai ttg watu yang asli, dia menolak menjawab karena merasa sebagai orang pendatang. Dia menganjurkan si bapak utk menemui kaum perempuan yang adalah penduduk asli.

Pernah ada kebakaran tapi daerah sekitar watu gak terbakar.

Soal Nyadran:
Dilakukan di kuburan, langsung diresiki langsung bancakan. Dilakukan bersama-sama antara WP dn GR. Gambyongan dilakukan di GR. Pernah suatu ketika Warga WP, entah karena alasan apa, tidak mengikuti nyadran (atau melakukan nyadran tidak berbarengan dengan GR?). Dan yang terjadi semua warga WP kena sakit “benter, kasrepen” (panas-dingin). Info dari Mbah Raginem. Jarak nyadran dan sakit itu sekitar 15 hari.
Nb: pada saat saya tanyakan apakah mereka pernah ngalami, ada dua pendapat yang berbeda antara mbah Wo dan mbah Raginem. Bagi mbah Wo itu hanya “kabare” atau sekitar “katanya” (karena dia belum datang di situ). Bagi Mbah Raginem dia pernah ngalami, karena saat itu dia telah punya mantu Sono.

Sendang
Dulu menjadi tempat ngambil air, pertamakali. Menurut mbah wo airnya besar (tapi kok sat?). Sekarang ada dua sumur, yang lebih tua yang ada di dekat rumah mbah wo. Yang dekat sini airnya gak habis, ukuran utk duwe gawe itu gak sat. sebenarnya ada sumber yang lebih besar, di belakang rumahnya. Cuman belum diduduk.

Arang
Yang bikin banyakan tiyang estri. Mbah lanang ngopeni menda.
Bikin lubang di tanah, lalu kayu disusun sejajar, dan rapat. Dibakar dengan bahan sisa2 arang. Trus ditutup daun jati dan di atasnya ditumpuki tanah. Penyalaan api bisa di dua titik waktu: sebelum penyusunan dan sesudah penyusunan kayu. Seandainya lubang itu ditembok, arangnya akan habis; karena dengan ditembok tembok akan menyala dan akan membakar kayu dan jadi abu.

Ngemblek.
Istilah utk bikin kayu jadi kotak/ persegi panjang. Digunakan juga utk blandhong.

Ternak
Sapi milik orang yang kerja di kebun. Ternak yang diidolakan mesa. Potensi rumput. Ada mitos dari mbah raginem: kalau ada sapi di sini jadi galak.

Tembakau
Mbah wongso pernah tanam tembakau.

Hutan
Mbah Wo mengutarakan ironi: bahwa dirinya –dan warga WP- yang menanam dan ngopeni pohon-pohon jati; tapi justru orang lain yang mengambil hasilnya. Orang lain itu entah pihak perhutani maupun para blandhong. Yang sisa bagi dirinya adalah pucukan2, rencek, dongkel.

Relokasi
Menurut Mbah Wongso penduduk setuju; tapi justru Perhutani-nya yang tidak setuju karena tanah yang diminta sebagai ganti ternyata lebih luas. Luas Watu Pawon 5,5 Ha akan tetapi tanah pengganti yang diminta oleh pihak desa 6 Ha.

Lurah Amir


Kramatan
Saya tertarik karena disebut ada nama mbah Do, informasi dari mbah Wo. Saya ingin melihat makam yang namanya mbah Do.

Persis sebelum kami melewati tapal batas WP – hutan perhutani, yang berupa pagar setinggi dada dari kayu jati yang disusun/letakkan sedemikian rupa sehingga orang yang lewat harus berbelok dulu (susunan/penataan tidak memungkinkan orang membawa pikulan lewat, kecuali dengan membongkar pagar); sekelebatan melihat beberapa orang berjalan tergesa-gesa, nyaris berlari, membawa glondhongan kayu. Bertiga langsung bisa mengatakan ada blandhong. Persis setelah kami melewati tapal batas, jalan setapak lurus, dan rombongan orang yang membawa glondhong tadi sudah tidak kelihatan. Cepat sekali. Rasan-rasan bahwa mereka pasti belok masuk rimbunnya pepohonan. Kami lanjutkan ke arah pekuburan. Sempat kebablasen.

Pekuburan, terletak di sebelah barat WP, di sebelah kanan jalan menuju Gunung Rambut. Pekuburan ini digunakan oleh masyarakat Gunung Rambut dan WP (ingat, nyadran kedua wilayah ini juga dilakukan bersama2): Yang menyolok mata, ada sebuah cungkup dengan dua buah kijing. Satu dengan nama lelaki dan di bawah ada tertulis 1997, dan di sebelah timurnya dengan nama perempuan dan di bawahnya juga ada tertulis 1997. Nama itu bukan nama yang aku inginkan. Di sekeliling cungkup itu ada puluhan pundhung (gundukan tanah kuburan), dan di masing-masing gundukan itu terdapat dua buah kayu jati yang berfungsi sebagai nisan. Kebanyakan kayu nisan sudah rusak, lapuk dimakan cuaca/usia. Di nisan2 itu tak ada tulisan nama; rupanya makam dalam cungkup satu2nya makam yang bernama. Di 3-4 pundhung ada bekas kendi kecil dan anglo kecil bekas bakaran menyan, bekas ritual; nampak makam itu relatif lebih baru dari yang lain.

Tidak ada nama yang tertulis di makam … bisa karena memang buta huruf dan juga bisa karena memang gak butuh penulisan nama. Tapi setidaknya ada –sedikit/banyak- kesan bahwa seseorang yang sudah meninggal direlakan begitu saja sehingga ketika ada pertanyaan2 mengenai nama kerabat yang meninggalpun didahului dengan gugatan: “alah, Pak, wong wis mati kok”. … Mungkin juga halnya dengan mbah wongso yang mengaku sudah putus hubungan dengan saudaranya yang di Randublatung

B.
Nara sumber: P. Karnadi, mbah X (warga Gunung Rambut)
Saat itu, saat kami masuk rumah, kebetulan Suwarso (anak ketiga P. Karnadi) kepecok betisnya. “Melu kulon kono kuwi mau, to?” tanya P. Ag. Dijawab bahwa luka karena mecoki kayu. Luka sepanjang, kira2, jari orang dewasa. Saat itu sedang proses akhir pembalutan. Luka diolesi lendir bekicot dan dibebat dengan secarik kain. Atas bantuan P. Samsuri dipanggilah mantri kesehatan P. X (kerabat P. Ag).

Pengobatan Tradisional
Utk luka: brambang-bawang-gula atau lendir bekicot; sebagai pertolongan pertama. Setelah itu tetep panggil mantri.

Tembakau
P. Karnadi tanam tembakau. Disalah satu sudut ruang ada sekitar sepuluh buntelan tembakau

???
Mbahk Kasinem tahunya kami ke kramatan. Beliau tanya apa untuk pembangunan masjid? Dan entah bagaimana dia bilang “Nek kayune dipendhet mangke pak kula kepanasen” ==rupanya beliau tahunya kami mau cari kayu yang ada di makam.

Suro Inggil
Seorang mumpuni, dugdheng. Menggunakan lambang penthung, kolor, iket. Gerakan “ratu adil”. Tapi dituduh sebagai kelanjutan dari gerakan PKI, bahkan ketiga lambang dianggap sebagai simbol tersembunyi (Penthung Kolor Iket à PKI)

Blandhong
Mengkritik mandor sekarang yang “nabok nyilih tangan”: ngonangi pencurian kayu tapi karena gak tegel(?) lalu kontak (per HT) ke pos lain utk melakukan pencegatan/penangkapan. Kisah2 pencurian kayu: dulu bisa dengan mudah bikin sambatan utk mbangun rumah (mulai dari blandhongnya sampai membangunnya), padahal hanya dengan sega thiwul dan tempe, tapi kalau sekarang harus sega pecel. (pergeseran/perubahan sosio-kultural?!)

Kalau dulu yang namanya mencuri itu jauh ke tengah hutan yang kira2 di luar jangkauan mandor. Tapi sekarang pun mencuri di dekat2 pos pun jadi.

Politik
“Nek karo banteng tenan ya wedi, tapi nek ming gambar ora papa”. “Nek wit ringin temenan ya iso kanggo ngeyup, nek ming gambar ya ora”. Saat berdebat dengan P. Ag. Menurut P. Ag. Kalau rakyat bersatu pasti akan menang. Akan tetapi dibantah oleh Mbah X, oke-lah bener bahwa saat rakyat itu bersatu banteng ternyata bener2 menang, “Ning ngapa kok malah Bus Dur?” (Dua kali disebut Bus Dur)



C.
Narasumber: seorang petugas PTM
Empat buah papan kayu bercat hijau daun, disusun ke bawah. Masing2 papan bertuliskan nama pos dan instansi yang membawahinya. Itulah Pos 37 (sebelumnya 14) atau biasa disebut pos Gulun (nama diambil dari sebuah pohon besar yang berada di depan pos). Pos ini masuk RPH Ngantepan BKPH Getas KPH Ngawi. Pos ini di jaga oleh 4 orang anggota PTM (Patroli Tunggal Mandiri. Saat kami disana hanya ada seorang petugas.

Bangunan pos seluruhnya terbuat dari papan kayu, termasuk lantai. Terdapat 4 ruang: ruang depan, ruang tidur yang didalamnya ada sebuah amben besar beralas tikar dan sebuah TV hitam putih yang diletakkan di atas standar yang khusus utk itu, ruang/bilik ibadah yang juga berfungsi utk menggantung pakaian2 dan terakhir ruang dapur yangn juga berfunsi utk menaruh barang2/gudang.

Di dinding ruangan depan ada beberapa bingkai tempelan dinding: poster tentang penjagaan hutan, visi dan misi perhutani, peta kerja pos 14 (nomor lama). Di bagian dinding lain ada 4 buah pentungan bercat hitam dair bahan rotan. Di dinding lain ada tumpukan buku2/kertas2 ukuran folio; tumpukan paling atas adalah buku catatan keluar-masuknya kendaraan. Disebelah tumpukan itu ada sebuah kotak besi yang rupanya semacam sentral pengaturan listrik tenaga surya yang di atasnya ada 3 tombol hitam utk menyalakan lampu, tombol tengah utk ruangan depan tempat kami ngobrol, sebelah kanannya utk lampu teras dan sebelah kiri utk lampu dalam/belakang.

Obrolan ngalor-ngidul, dengan tema2 terbatas pada persoalan kehidupan para petugas dan hutan. Kualitas mandor, bayaran honorer yang sangat minim, sekitar Rp 20-ribu per bulan. Pengangkatan pegawai tetap harus melajlui tempo lebih dari sepuluh tahun. Da juga yang 14 tahun baru diangkat. Sp mengaku sering juga ngonangi pencurian kayu. Hanya saja bagi dia selama ini gak ada persoalan dengan para pencuri, karena begitu melihat ada petugas para pencuri kayu itu pergi/lari, dan –ada semacam konvensi antara pencuri dan mandor-- petugas juga gak akan mengejar (=menghindari ketemu muka/bentrokan fisik?!).

Latihan di alun-alun, latihan pasang borgol.

(selesai)…