Senin, 04 Mei 2009

Biaya kelahiran laki-laki lebih mahal

Suatu hari ketika memfasilitasi kelahiran bayi di hutan (2004), saya dikejutkan dengan perbedaan besar biaya persalinan oleh dukun melahirkan. Kalau yang lahir bayi laki-laki maka besar biaya melahirkan adalah Rp. 450.000,- sedangkan kalau perempuan Rp. 350.000,-. Mengapa berbeda? Di lingkungan hutan dimana “okol” lebih dikedepankan maka peran laki-laki dinilai sangat penting. Beberapa pekerjaan yang termasuk okol adalah memotong dan memikul pohon, pecah batu di hutan, dan mengolah tanah untuk perkebunan.

Pria juga terlibat politik. Rapat-rapat warga di dusun sampai desa masih diwarnai dominasi kehadiran pria yang tinggi. Kehadiran sekolah di sekitar mereka belum bisa mendobrak perbedaan ini. Meski tersedia sekolah tetapi seringkali kemauan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi jarang diminati kaum hawa. Kaum hawa masih lebih banyak yang memilih menikah di usia muda. Kehadiran beberapa perempuan yang pulang kampung setelah beberapa masa bersama suami dari kota atau perantauan (dimana dunia okol sudah diperdebatkan) menunjukan perbedaan dengan perempuan yang menetap di kampung. Namun kehadiran perempuan ini yang hanya sementara saja di kampong tidak memberikan dampak apa-apa terhadap perbedaan laki-laki dan perempuan.

Namun di tengah kondisi yang mengagungkan pria, perempuan menunjukkan mengurai kelemahan pria dan kelebihan perempuan. Ditunjukkan bahwa pria tidak akan kuat menduda sehingga segera menikah lagi. Dengan beberapa contoh kecil perempuan menceritakan misalnya, seorang duda akan repot menyuguhkan makanan kalau ada tamu. Sedangkan seorang janda mampu hidup sendiri. Penelusuran saya mengatakan bahwa memang hampir tidak dijumpai duda melainkan janda. Perempuan juga bercerita bahwa mereka terlibat dalam “pencarian kayu”. Saya tidak mengatakan bahwa gambar tulisan ini menunjukkan wanita yang sedang menggendong kayu curian, melainkan seorang perempuan yang mencari bahan untuk kayu bakar.

Para pria mengklaim bahwa mereka terlibat dalam keputusan-keputusan rumah tangga. Tetapi untuk hal inipun disanggah oleh perempuan. Perempuan mengatakan bahwa uang keluarga merekalah yang memegang. Setiap keperluan suami mereka control. Hal ini terlihat misalnya dalam membelanjakan keperluan untuk tanam. Pembelian bibit, pupuk, dan lainnya sangat memaksa pria untuk berunding dengan istri mereka.

Jadi darimana datangnya perbedaan harga kelahiran bayi laki-laki dan perempuan? Di ranah budaya, dominasi pria terus saja dipertanyakan kaum perempuannya. Mungkin dalam ranah “enyel-enyelan” semata!

Anton Nur